<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>NYEGIK [dot] COM &#187; catatan nyegik</title>
	<atom:link href="http://www.nyegik.com/category/catatan-nyegik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.nyegik.com</link>
	<description>just a little experience all my days</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Jul 2010 20:09:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Tabungan, riwayatmu dulu</title>
		<link>http://www.nyegik.com/tabungan-riwayatmu-dulu/</link>
		<comments>http://www.nyegik.com/tabungan-riwayatmu-dulu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 07:14:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mamah aline</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan nyegik]]></category>
		<category><![CDATA[catatan yang tertinggal]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[BRI]]></category>
		<category><![CDATA[tabanas]]></category>
		<category><![CDATA[tabungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nyegik.com/?p=612</guid>
		<description><![CDATA[Aku ingat, dulu saat masih SD kami wajib menyimpan sisa uang jajan ke Kantor Pos dan Giro dalam bentuk Tabanas sepulang sekolah oleh ayah. Mungkin maksudnya mengajarkan kami menabung sekalian berhemat. Jumlahnya tidak seberapa, tapi kadang ada keinginan untuk menyimpan lebih besar, ingin dianggap sebagai anak terajin menabung trus ntar dapat hadiah lagi weee&#8230; ngarep! [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku ingat, dulu saat masih SD kami wajib menyimpan sisa uang jajan ke Kantor Pos dan Giro dalam bentuk Tabanas sepulang sekolah oleh ayah. Mungkin maksudnya mengajarkan kami menabung sekalian berhemat. Jumlahnya tidak seberapa, tapi kadang ada keinginan untuk menyimpan lebih besar, ingin dianggap sebagai anak terajin menabung trus ntar dapat hadiah lagi weee&#8230; ngarep! but that&#8217;s true, motivasi timbul karena ada iming-iming hadiah.</p>
<p>Kalo sekarang ada beberapa bank yang menghadirkan produk menabung yang bebas biaya bulanan, cocok buat pelajar, sebab di bank tertentu besarnya nilai tabungan tidak seimbang dengan biaya administrasi bulanan, berikut potongan lainnya jadi harus mencapai saldo tertentu yang lumayan besar jika tidak ingin rugi.  <span id="more-612"></span></p>
<p><img alt="" src="http://img2.pict.com/cd/e2/cb/2894548/0/tabanas.jpg" title="tabanas" class="aligncenter" width="200" height="150" /></p>
<p>Ntahlah aku udah gak ingat kapan terakhir menabung saat itu, terlupakan dengan kepindahan kami mengikuti tugas ayah. Kalo ngga salah juga, waktu tahun terakhir di SMP ada kesempatan untuk mengambil tabanas kami yang mengendap di kantor Pos itu. Ternyata tabungan ajaib itu menyulap butir-butir rupiah kami menjadi nilai yang bertambah sekian kali lipat, serasa mendapat lotre saja aku bersorak girang mengamati angka-angka nominal yang berderet panjang dari bertambahnya suku bunga, aku mengerti yang ayah bilang sebagai bonus hadiah dari kerajinan kami menabung ya itu dia, tambahan uang tabungan kami itu&#8230;.</p>
<p>Peristiwa itu kuingat lagi manakala kemarin pergi ke Majalengka, mengurus buku tabungan BRI unit yang mengendap selama 4 tahun, tergolek di laci lemari rumah lamaku. Aku ragu dengan jumlah saldonya, mengingat suku bunga dan biaya administrasi di bank sekarang tidak seperti dulu, jangan-jangan malah pas datang ke bank rekening tabunganku sudah ditutup. Ternyata saldo tabungan ku masih ada, tidak mengalami penurunan signifikan tertutupi oleh suku bunga bulanan dengan potongan administrasi hanya 3500 rupiah. Alhamdulilah, setelah berganti buku dua kali dan tandatangan aku bisa lega, setidaknya walau nilainya tidak bertambah, aku bisa mengaktifkan kembali rekening tabungan itu dan  bisa bertransaksi di cabang manapun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nyegik.com/tabungan-riwayatmu-dulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>secangkir kopi dan setangkup cinta</title>
		<link>http://www.nyegik.com/secangkir-kopi-dan-setangkup-cinta/</link>
		<comments>http://www.nyegik.com/secangkir-kopi-dan-setangkup-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 02:36:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mamah aline</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan nyegik]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[rumahtangga]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nyegik.com/?p=596</guid>
		<description><![CDATA[Jika rasa cinta bisa hilang karena masalah uang&#8230; atau yang berhubungan dengan uang, beberapa orang mengalaminya. Anehnya tak seperti saat jadian atau melangkah ke jenjang pernikahan yang indah pada awalnya, mereka seolah melupakan komitmen untuk saling setia dan mendukung disaat susah dan senang, disaat suka atau duka, disaat sukses atau keterpurukkannya. Betul juga jika ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://img2.pict.com/d7/fd/c6/2795045/0/steaminghearts.jpg" title="a cup of love coffee" class="aligncenter" width="200" height="200" /></p>
<p>Jika rasa cinta bisa hilang karena masalah uang&#8230; atau yang berhubungan dengan uang, beberapa orang mengalaminya. Anehnya tak seperti saat jadian atau melangkah ke jenjang pernikahan yang indah pada awalnya, mereka seolah melupakan komitmen untuk saling setia dan mendukung disaat susah dan senang, disaat suka atau duka, disaat sukses atau keterpurukkannya.</p>
<p>Betul juga jika ada yang berujar, <em>memangnya kawin cuman bermodalkan cinta?</em> atau <em>hidup berumah tangga tidak cukup kenyang dengan makan cinta saja, tapi juga kesiapan materi minimal penghasilan cukup</em> . Itu sih buat yang nikah tanpa ada rencana jangka panjang, atau buat mereka yang pengangguran. Tapi cinta habis terkikis akibat melanggar komitmen untuk menerima pasangan apa adanya dalam kesederhanaan, itu baru hal kurang bisa saya terima.<span id="more-596"></span></p>
<p>Di teras rumah kami biasa menikmati sajian secangkir kopi hangat  diminum berdua, sekedar ngobrol atau sharing cerita sepanjang hari yang sudah dilewati atau ada pengalaman lucu yang terjadi bisa membuat kita tertawa terpingkal-pingkal, atau malah cerita mengharu biru yang membuat kita lama terduduk dalam diam. Bertahun-tahun kebiasaan itu sudah dijalani tanpa tau sebenarnya siapa yang memulai kebiasaan ini lebih dulu&#8230;</p>
<p>Di teras itu pula kami  mendengarkan keluh kesah pasangan yang akan bercerai setelah 5 tahun menikah akibat masalah penghasilan yang kurang  , dan  kami mempunyai kesimpulan:</p>
<li>salah satu pasangan tidak bisa menerima keterbatasan materi alias gak mau hidup susah
<li>salah satu pasangan cenderung memanipulasi penghasilan yang sebenarnya
<li>tidak ada komunikasi timbal balik berupa saling berbagi persaan hati dan keinginan
<li>tingkat egoisme yang tinggi
<li>ketika menjadi pasanganhidup, itulah pilihan mereka sendiri</li>
<li>menjadikan uang sebagai sumber masalah yang terus menerus diungkit
<li>menjadikan uang sebagai ukuran kebahagiaan</li>
<blockquote><p>Berita itu masih hangat dan menyisakan tanya, hanya seperti itu kah masalah diselesaikan, atau mungkin tidak ada cukup  kedewasaan menghadapinya atau memang tidak ada lagi cinta yang merekatkan pecahan uang yang tercecer di kolong kehidupan rumah tangga mereka&#8230;</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nyegik.com/secangkir-kopi-dan-setangkup-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lidah tak Bertulang</title>
		<link>http://www.nyegik.com/lidah-tak-bertulang/</link>
		<comments>http://www.nyegik.com/lidah-tak-bertulang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 20:29:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mamah aline</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan nyegik]]></category>
		<category><![CDATA[lidah]]></category>
		<category><![CDATA[lidah tak bertulang]]></category>
		<category><![CDATA[lisan]]></category>
		<category><![CDATA[perbuatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nyegik.com/?p=563</guid>
		<description><![CDATA[Aku percaya Allah membuka kebenaran lewat cara yang kadang tidak kita duga. Setelah orang yang dicari tante saya akibat penggelapan (atau penipuankah tepatnya) bisnis barang elektronik yang dinominalkan pada sekian digit menghilang, tante menganggap masalah ini selesai dan mengikhlaskan barang hilang dapat dicari dan bisa dikumpulkan kembali atas izinNya. Masalah bisnis itu akhirnya dipeti eskan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://img2.pict.com/a2/9e/d6/2751697/0/slipofthetongue.jpg" title="slip tongue" class="alignleft" width="118" height="150" /></p>
<p>Aku percaya Allah membuka kebenaran lewat cara yang kadang tidak kita duga. Setelah orang yang dicari tante saya akibat penggelapan (atau penipuankah tepatnya) bisnis barang elektronik yang dinominalkan  pada sekian digit menghilang, tante menganggap masalah ini selesai dan mengikhlaskan  barang hilang dapat dicari dan bisa dikumpulkan kembali atas izinNya. Masalah bisnis itu akhirnya dipeti eskan selama 9 tahun. Minggu ini justru bisa terungkap dari sebuah percakapan wajar biasa seseorang di sebuah rumah. Sebut saja jeng Rani, perempuan diatas 40 tahun itu menjadi penghuni baru  di kompleks kami selama setahun belakangan, tapi wanita itu hanya bergaul dengan beberapa orang tertentu saja.<span id="more-563"></span></p>
<p>Dalam obrolan siang itu, jeng Rani mengungkit soal kekerabatannya dengan seseorang yang berdinas di A, berdomisili di B dan bernama C&#8230; sebuah ciri khusus yang mengingatkan teman ngobrolnya yang tak lain adalah wa Linceu -yang memang tahu banyak soal keluargaku-, memberi pengakuan dengan ciri khusus yang sama dengan keluargaku  sama persis dengan ciri om dan tanteku berdasar kesamaan nama, pekerjaan,dan alamat &#8230; sama persis!</p>
<p>Wa Linceu yang merasa penasaran  menelponku dan bilang kalo aku ternyata punya kerabat jauh di kota ini, jelas  saat itu juga aku mendatangi kediamannya, mendapati seseorang duduk malas di kursi panjang berongkang kaki, seseorang yang tak dikenal. Dari cara berkenalan dengannya, aku menangkap rasa sangsi dari matanya dan masih menganggap remeh sosokku.</p>
<p>Karena rasa penasaran jugalah, aku konfirmasi ke pihak tante apakah kita punya keluarga dekat bernama jeng Rani yang berasal dari kota X namun sekarang tinggal disini. Dari situ semuanya terungkap, jeng Rani hanyalah seorang penipu licin yang dicari para korban dalam kurun waktu berbeda&#8230;</p>
<p>Jika tidak ada percakapan bernada bangga itu, <strong>dari lidah yang tak bertulang</strong>, mungkin saat ini jeng Rani masih berada di kompleks rumah kami dengan aman dan damai. Tak pernah diperhitungkannya pengakuan palsunya bisa mempertemukannya dengan saya, keponakan asli tante, melalui wa Linceu dan membawanya pada pelarian selanjutnya, karena setelah kejadian itu banyak orang beserta buser yang menanyakan keberadaannya.</p>
<p>Tak pernah ia mengira, <em>pengakuan palsu dari lisan yang tak terjaga dan yang selalu penuh kebohongan dalam setiap tarikan kalimatnya membuatnya tak bisa tidur nyenyak kembali</em>. Dia tak pernah memperhitungkan di kota ini ternyata ada anggota keluarga korban penipuannya.  Beberapa hari kemudian, jeng Rani dan suaminya menguap diam-diam dari rumah kontrakannya, mungkin mereka menghindari kami juga masalah-masalahnya dengan orang lain yang lebih rumit.</p>
<blockquote><p>Biarpun aku wanita, aku masih saja terheran saat mendengar mulut manis berbicara keprihatinan agar simpati dan dukungan didapatkan dan menjadikan air mata sebagai senjata memperoleh belas kasihan dan beroleh maaf&#8230; hmmm, akting yang dia perankan sungguh terlihat bak peran di layar sinetron, begitu sempurna! Wajah cantiknya tak sesuai hatinya, aku kira kebohongannnya dan kepalsuan telah mendarah daging dalam setiap butir darah dan helai nadinya, dalam sel tulang sumsum sampai ke batang otaknya &#8230;naudzubillahi min dzalik.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nyegik.com/lidah-tak-bertulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>61</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
